Memahami Model Partisipasi Politik: Studi Klasik oleh Lester Walter Milbrath dan Madan Lal Goel (1977)

Mia Novitasari
Diunggah pada

Kata partisipasi politik, saat ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita ya, sudah kita gunakan dalam keseharian kita bahkan sudah kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini definisi partisipasi politik juga kerap kali lekat dengan ‘aktivitas politik’ seperti misalnya berpartisipasi dalam pemilihan umum serta berpartisipasi aktif dalam partai politik.

Definisi partisipasi politik terus berkembang seiring dengan kondisi sosial politik pada masanya. Tulisan ini bermaksud mengantarkan kita semua untuk lebih memahami tentang model partisipasi politik dengan ikut meninjau literatur klasik. Siapa yang melakukan partisipasi politik dan apa saja model partisipasi yang dimaksud dan dikembangkan?

Studi yang seringkali menjadi rujukan untuk tema partisipasi politik adalah karya Lester Walter Milbrath yang pertama kali diterbitkan pada 1965 yang berjudul Political Participation : How and Why Do People Get Involved in Politics?. Konteks yang melatarbelakangi lahirnya studi ini,  tahun 1950 sampai dengan 1960an merupakan periode munculnya behavioral revolution dalam ilmu politik, terutama di Amerika Serikat. Studi Milbrath ini berfokus pada psikologi partisipasi politik pada tingkat individu (Philpot & Walton Jr). Partisipasi politik dalam studi awal Milbrath (1965) masih dilihat sebagai dimensi tunggal. Dalam mengukur partisipasi politik, Milbrath menggunakan analogi pertandingan gladiator dengan menawarkan tiga kategori partisipasi. Analogi ini digunakan untuk memudahkan para pembaca mengasosiasikan partisipasi politik. Tiga kategori yang dimaksud  yaitu gladiator, spectators (penonton) dan apatis.

Akhir tahun enam puluhan dapat digambarkan sebagai era ‘revolusi partisipasi’. Banyak kelompok minoritas, terutama warga kulit hitam, mahasiswa dan kelompok perempuan telah berjuang untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan seharusnya setara untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan di lingkup masyarakat. Ketika tuntutan mereka untuk diakui terhambat oleh sistem politik yang lambat merespon atau bahkan tidak merespon sama sekali, banyak dari mereka beralih melakukan protes dan demonstrasi bahkan melakukan ‘kerusuhan’ dalam upaya membuka ruang yang lebih besar bagi mereka masuk dalam sistem politik (Milbrath dan Goel).

Pada 1977, Milbrath memperbaharui studinya tentang partisipasi politik dalam bukunya yang ditulis bersama Madan Lal Goel berjudul Political Participation : How and Why Do People Get Involved in Politics? (Second Edition). Pertanyaan utama yang ingin dijawab dari studi ini adalah bagaimana dan mengapa orang terlibat di politik? Pertanyaan lebih spesifiknya yaitu bagaimana karakteristik sistem politik mempengaruhi cara dan tingkat partisipasi politik, dan bagaimana pola partisipasi masyarakat mempengaruhi fungsi sistem politik?

Menurut Milbrath dan Goel, definisi politik perlu dibuat lebih spesifik yang dapat membedakan perilaku politik dan non-politik. Hal ini lebih mudah didefinisikan dalam konteks sistem politik. Milbrath dan Goel merujuk definisi politik dari Robert Dahl, yaitu sistem politik adalah setiap pola hubungan manusia yang terus menerus melibatkan hingga tingkat tertentu kekuasaan, pemerintahan dan otoritas. Dalam kehidupan sehari-hari sistem politik dipandang tidak hanya mencakup pemerintahan formal, tetapi juga pola hubungan manusia yang mempengaruhi keputusan pemerintahan tersebut.

Perilaku politik yang dimaksud oleh Milbrath dan Goel adalah perilaku yang mempengaruhi atau dimaksudkan untuk mempengaruhi hasil keputusan pemerintah. Sementara itu, partisipasi politik dapat didefinisikan sebagai tindakan/aksi yang dilakukan masyarakat sipil untuk mempengaruhi atau mendukung pemerintahan dan politik. Definisi ini bermaksud menjelaskan kompleksitas relasi individu dengan pemerintah (sistem politik). Ada orang yang menerima sistem namun pada sisi lain ada yang ingin mengubah sistem tersebut. Ada yang terlibat aktif dalam sistem, ada yang sangat pasif. Ada pula yang menganggap bahwa sistem bisa ditaklukkan namun ada juga yang menganggap sistem itu membingungkan dan menakutkan.

Dalam studi ini, Milbrath dan Goel juga masih merujuk pada tiga kategori partisipasi politik sebelumnya yang menggunakan analogi pertunjukkan gladiator. Kategori yang disebut sebagai gladiators adalah orang-orang yang sangat aktif berpolitik, termasuk di dalamnya adalah pengurus partai politik, kandidat dalam pemilu, aktivis, pemimpin organisasi politik. Orang-orang yang termasuk kategori ini jumlahnya sedikit, seperti analogi dalam pertarungan gladiator, yang menjadi gladiator atau petarungnya, jumlahnya hanya segelintir orang. Partisipasi politik yang dilakukan dalam kategori ini memerlukan waktu, energi dan risiko yang lebih besar dibandingkan kategori lainnya. Selanjutnya adalah kategori spectators (penonton), adalah orang-orang yang hanya terlibat secara minimal dalam politik. Contohnya adalah orang yang menggunakan hak pilihnya saat pemilu, orang yang membaca berita dan berdiskusi tentang politik. Kategori terakhir adalah apathetics (apatis) yang termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang menarik diri dari proses politik atau tidak berpolitik sama sekali.

Dalam studi ini, Milbrath dan Goel menyebutkan bahwa konseptualisasi partisipasi politik telah dimodifikasi melalui studi yang lebih baru saat itu dengan kumpulan data yang jauh lebih kaya. Sebelumnya perilaku yang diteliti lebih terbatas, semata-mata termasuk dalam lingkup politik elektoral yang berorientasi pada pemenangan pemilu. Ini menandakan partisipasi politik masih dimaknai secara satu dimensi. Studi Milbrath dan Goel temuan analisisnya berfokus pada apa yang disebut dengan ‘moda’ atau ‘gaya’ partisipasi politik. Inti temuan studinya adalah partisipasi politik bersifat multi-dimensi. 

Milbrath dan Goel menggarisbawahi model partisipasi berbeda berdasarkan studi dari Verba, Nie dan Kim (1971). Model partisipasi politik ini berfokus pada model hubungan individu dan kebijakan. Hal ini mencakup aktivitas:

  1. memilih (voting)
  2. menjadi aktivis partai dan kampanye (party and campaign workers),
  3. menjadi aktivis komunitas (community activists)
  4. mengontak pihak yang berwenang (contacting officials)
  5. mengikuti demonstrasi (protestors) dan
  6. menjadi komunikator (communicators).

Dalam mendefinisikan masing-masing model partisipasi tersebut, Milbrath dan Goel merujuk pada studi Verba dan Nie (1971) dan survei Buffalo (1968).

Memilih (voting) merupakan moda partisipasi yang terpisah dari kegiatan partai dan kampanye. Orang memilih lebih kepada kewajiban sipil dan rasa kebersamaan. Tindakan memilih tidak membutuhkan informasi dan motivasi sebanyak kegiatan politik lainnya. Kegiatan sebagai aktivis partai dan kampanye (party and campaign workers) termasuk di antaranya adalah membujuk orang lain mengenai cara memilih, secara aktif bekerja untuk partai atau kandidat, menghadiri pertemuan atau rapat politik, memberikan sumbangan uang kepada partai atau kandidat,  keanggotaan dalam klub politik, menjadi kandidat untuk jabatan publik serta bergabung dan mendukung partai politik. Hanya relatif sebagian kecil dari orang-orang yang mengambil sikap ‘aktivis partai dan kampanye” terhadap sistem politik. Para aktivis ini membentuk sekitar 15% dari populasi Amerika Serikat. Orang-orang ini yang disebut dengan “gladiator” dalam konteks politik. Mereka melakukan sebagian besar pekerjaan sementara mayoritas populasi duduk di tribun penonton.

Aktivis komunitas (community activists) dalam banyak hal, mirip dengan aktivis partai dan kampanye, keduanya mengikuti pola aktivis umum dan keduanya memiliki tingkat keterlibatan psikologis yang tinggi dalam masalah komunitas. Perbedaan utamanya adalah aktivis komunitas jauh kurang peduli dengan politik partai dan kampanye dibandingkan dengan aktivis partai. Individu yang mengontak pihak yang berwenang (contacting officials) adalah seseorang yang menghubungi pejabat pemerintah yang berwenang karena ia peduli dengan isu tertentu yang secara langsung mempengaruhinya (misal pajak sekolah, pekerjaan jalan, mengecek jaminan sosial, dan lain-lain). Orang-orang yang menekankan moda ini, menurut Milbrath dan Goel, biasanya tidak terlalu terlibat dalam masalah politik.

Protestors (demonstran) definisinya mencakup mereka yang ikut serta dalam demonstrasi jalanan, memprotes secara gigih dan terbuka jika pemerintah melakukan sesuatu yang secara moral salah, ikut serta dalam pawai protes, melakukan kerusuhan jika perlu agar pejabat publik memperbaiki kesalahan politik serta menolak untuk mematuhi undang-undang yang tidak adil. Menjadi komunikator (communicators) definisi yang merujuk pada analisis faktor dalam Survei Buffalo (1968) mencakup tetap memperoleh informasi tentang politik, mengirim pesan dukungan kepada pemimpin politik ketika mereka berkinerja baik, mengirim pesan protes kepada pemimpin politik ketika mereka berkinerja buruk, terlibat dalam diskusi politik, memberitahu orang lain di komunitas tentang politik, menyatakan pandangan kepada pejabat publik serta menulis surat kepada editor surat kabar.

Model partisipasi politik yang dikembangkan oleh Milbrath dan Goel telah meletakkan landasan awal yang penting yang kemudian dirujuk dan dikembangkan oleh akademisi lainnya. Dalam perkembangannya saat ini, lebih jauh, teori dan penjelasan tentang partisipasi politik telah mengadopsi berbagai paradigma dari disiplin ilmu yang berbeda. Dalam membaca partisipasi politik saat ini akan sulit untuk melihatnya hanya dalam dikotomi yang sederhana (Giugni dan Grasso).

#Regenerasi #Samsara #Politik

Referensi : 

Milbrath, Lester W., and Madan Lal Goel. Political Participation: How and Why Do People Get Involved in Politics? 2nd ed., Rand McNally College Publishing Company, 1977.

Giugni, Marco, and Maria Grasso, editors. The Oxford Handbook of Political Participation. Oxford University Press, 2022.

Philpot, Tasha S., and Hanes Walton, Jr. “African-American Political Participation.” The Oxford Handbook of African American Citizenship, 1865–Present, edited by Henry Louis Gates, Jr., et al., Oxford University Press, 2012, pp. 361–378. Oxford Handbooks Online, 4 Aug. 2014, https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199566631.013.001.

Penulis: Mia Novitasari, Peneliti Cakra Wikara Indonesia