Bentuk (Baru) Partisipasi Politik: Digitally Networked Participation (DNP)

Bergas Fadhil Widyadhana
Diunggah pada

Memasuki era digital seiring perkembangan teknologi serta pola kehidupan yang dapat mendukung individualisme, partisipasi politik telah mengalami perubahan baik dari segi struktur hingga cakupannya. Aktivitas tradisional seperti pemungutan suara, menjadi anggota partai, hingga protes di jalan, kini berdampingan dengan bentuk partisipasi baru, seperti lifestyle politics dan Digitally Networked Participation (DNP). Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah ragam partisipasi politik baru yang muncul hanyalah perkembangan moda partisipasi sebelumnya, atau justru mencerminkan perubahan fundamental dalam cara masyarakat terlibat dan berpartisipasi dalam politik di era digital ini.

Yannis Theocharis et al. telah memproduksi sebuah artikel yang mencoba menyorot bagaimana kehadiran internet dan platform daring membentuk partisipasi baru, yaitu Digitally Networked Participation (DNP), saat individu menggunakan jaringan digital untuk mengekspresikan diri, memobilisasi orang lain, meningkatkan kesadaran, atau menekan aktor untuk menyelesaikan masalah sosial politik. Artikel tersebut berjudul “Digitally Networked Participation and Lifestyle Politics as New Modes of Political Participation,” yang diterbitkan pada tahun 2019 dan berupaya menjawab pertanyaan mengenai posisi DNP dalam kajian partisipasi politik kontemporer. Secara khusus, artikel tersebut menelaah apakah DNP termasuk dalam kategori bentuk lifestyle politics dan aksi individual, ataukah DNP merupakan moda partisipasi politik tersendiri dengan karakteristik dan dinamika yang berbeda.

Lifestyle politics sendiri merupakan politisasi pilihan hidup sehari-hari seperti aksi boikot, gaya hidup ramah lingkungan, hingga vegetarianisme. Kegiatan yang masuk ke dalam lifestyle politics berfokus pada aktivitas material dan praktik sehari-hari seperti halnya aktivitas do‐it‐yourself (DIY). Ini terwujud dalam tindakan atau pilihan gaya hidup yang mencerminkan nilai politik tertentu. Bentuk partisipasi utama lifestyle politics dapat dipahami sebagai partisipasi politik yang berpusat pada individu dan merupakan bentuk ekspresi diri. Bentuk partisipasi DNP juga dapat dipahami sebagai partisipasi politik yang sama, ketika lifestyle politics dan DNP terjadi dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya dalam ruang politik formal seperti pemilu atau keanggotaan partai. Akan tetapi, berbeda dengan lifestyle politics, DNP memiliki karakteristik khas berupa penggunaan media sosial dan teknologi digital sebagai sarana utama partisipasi. Hal itulah yang disoroti oleh Theocaris et al. untuk mencari tahu apakah DNP merupakan moda partisipasi politik yang berdiri sendiri.

Terdapat dua posisi dalam memandang DNP menurut Theocharis et al. Pertama, pandangan yang dikemukakan Theocharis dan van Deth (2018a) menempatkan DNP sebagai moda partisipasi politik tersendiri. Pandangan ini menyorot penggunaan teknologi yang menghadirkan fitur komunikasi jaringan seperti media sosial. Secara khusus, jaringan komunikasi yang memungkinkan terciptanya user-generated content, interaksi horizontal antar pengguna, dan mobilisasi daring. Kedua, Theocharis et al. juga menyorot pandangan yang menempatkan DNP sebagai moda partisipasi yang bersifat individualis, seperti halnya lifestyle politics. Pandangan kedua menyoroti moda yang bersifat ekspresif, terjadi di luar lembaga formal, berfokus pada agensi individu, dan muncul dari praktek sehari-hari. Dengan demikian, posisi kedua tersebut memandang DNP sebagai salah satu ekspresi dari kategori partisipasi individu yang lebih besar.

DNP hadir sebagai moda partisipasi baru yang perlu diidentifikasi secara lebih lanjut saat ini. Digitalisasi politik lewat Web 2.0 dan media sosial membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengekspresikan pandangan politik, membangun jaringan, dan mobilisasi secara daring. Pada saat yang sama, keterlibatan politik warga semakin didasarkan pada identitas pribadi, aktivitas sehari-hari, dan ekspresi diri, daripada melalui organisasi formal atau institusi politik tradisional. Untuk mengidentifikasi DNP secara lebih lanjut, penelitian Theocharis et al. menggunakan survei terhadap 2.114 responden di Belgia pada tahun 2017 untuk mengukur bentuk partisipasi politik yang mereka gunakan, baik yang telah dikenal maupun bentuk partisipasi baru. Prosedur pengukuran yang digunakan merupakan kombinasi pertanyaan tertutup dan terbuka yang dikembangkan oleh Theocharis dan van Deth.

Hasil penelitian Theocharis et al. menunjukkan bahwa DNP bukan merupakan perpanjangan dari lifestyle politics maupun sekadar bagian dari moda tindakan individual yang lebih luas. Sebaliknya, DNP terbukti sebagai moda partisipasi politik yang independen dan memiliki karakteristik tersendiri, seperti halnya posisi pertama dalam memandang DNP. Keunikan DNP sebagai moda partisipasi politik terletak pada pemanfaatan media sosial dan teknologi digital sebagai sarana utama partisipasi, yang memungkinkan jejaring komunikasi, mobilisasi dan produksi konten secara daring. Dengan demikian, faktor teknologi dan pendekatan jejaring digital menjadi pembeda utama antara DNP dengan bentuk-bentuk partisipasi politik lainnya. Ditemukan bahwa pengguna DNP cenderung memiliki minat dan tingkat pemahaman yang tinggi mengenai politik, namun dengan tingkat kepercayaan yang lebih rendah dan lebih kritis terhadap institusi politik yang ada.

Temuan tambahan yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah, pendekatan DNP menarik bagi warga muda yang kritis terhadap institusi politik namun tetap memiliki minat dan keyakinan untuk berpartisipasi dalam politik, sehingga ketidakpercayaan terhadap sistem tidak selalu berujung pada apatisme, melainkan pada bentuk partisipasi politik yang baru melalui DNP. Demikian juga, DNP lebih banyak dilakukan oleh individu yang lebih muda, individu dengan pendapatan lebih rendah, dan individu yang berhaluan ideologis lebih kiri. Ditemukan juga bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dan antar tingkat pendidikan responden dalam penggunaan DNP. Keberadaan DNP menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak hanya menyediakan sarana baru dalam berpartisipasi politik, tetapi juga membangun pola keterlibatan politik dengan karakteristik, pendekatan, dan aktor yang berbeda dari berbagai bentuk partisipasi politik sebelumnya.

#Regenerasi #Samsara #Politik

Penulis: Bergas Fadhil Widyadhana, Peneliti Cakra Wikara Indonesia