Peran Perempuan dalam Pembangunan Desa: Cerita dari Desa Sidomulyo

Diunggah pada

Oleh Mia Novitasari

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah membuka ruang terhadap partisipasi warga dalam pembangunan desa. Hal ini seiring dengan adanya kebijakan dana desa dari pemerintah pusat. Dengan ini warga desa diharapkan mampu memanfaatkan peluang untuk berpartisipasi dalam memajukan desanya. Namun dalam praktiknya, terdapat berbagai kendala dalam partisipasi warga desa yaitu warga yang enggan terlibat dalam forum-forum yang ada di desa. Mereka merasa jenuh mengikuti forum tersebut karena usulan warga seringkali tidak terealisasi. Kendala lainnya adalah kehadiran perempuan dalam forum-forum perencanaan pembangunan di desa masih sangat minim.

Selama periode Maret – Oktober 2015 telah dilaksanakan program untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pembangunan desa, salah satunya di Desa Sidomulyo. Secara garis besar program ini terdiri dari tiga bagian yaitu riset, edukasi warga, dan aksi bersama. Berbagai kegiatan dilaksanakan dalam kerangka program ini, meliputi riset untuk penetapan desa target, pelatihan untuk perempuan di desa, survey pemetaan kebutuhan warga, pertemuan warga melalui temu dusun dan temu warga desa.

Mendorong Keterlibatan Perempuan  

Desa Sidomulyo terdiri dari 3 (tiga) dusun yaitu Sukorembug, Tinjumoyo, Tonggolari. Tercatat pada 2014, penduduknya berjumlah 7.673 jiwa (data BPS 2015). Desa ini ditetapkan menjadi desa wisata pada tahun 2002. Desa yang terletak tidak jauh dari alun-alun kota Batu ini, terkenal akan wisata bunga karena mayoritas penduduknya merupakan petani tanaman hias terutama bunga. Hampir di setiap rumah warga ditanami berbagai jenis bunga terutama bunga mawar.

Terdapat dua organisasi perempuan yaitu Suara Perempuan Desa (SPD) dan Karya Bunda Community (KBC) yang menginisiasi Sekolah Perempuan di Desa Sidomulyo. Aktivitas ini sudah berjalan sejak tahun 2013. Kegiatan Sekolah Perempuan antara lain mengajarkan keterampilan praktis untuk ibu-ibu, seperti memasak, menjahit, membuat kerajinan serta pengetahuan tentang gender dan kesetaraan. Anggota ekolah Perempuan umumnya adalah warga Desa Sidomulyo serta ada beberapa warga dari Desa Gunungsari. Namun pengetahuan dan pengalaman mereka tentang partisipasi pembangunan desa masih minim. Selain itu, perempuan masih sangat jarang dilibatkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan strategis di desa meskipun aktivitas kelompok perempuan sudah maju.

Pada bulan Maret 2015, sebanyak 12 orang perempuan anggota Sekolah Perempuan mengikuti pelatihan bertema mendorong partisipasi perempuan dalam pembangunan desa. Para ibu yang mengikuti pelatihan mayoritas berusia 30-40 tahun, hanya ada satu orang ibu yang usianya diatas 40 tahun. Keseharian mereka sebagian besar merupakan petani bunga, sementara yang lainnya pedagang dan pembuat kerajinan. Pelatihan ini membekali peserta dengan pengetahuan akan pentingnya keterlibatan perempuan dalam pembangunan desa, mengenali kebutuhan khas perempuan, memahami potensi kepemimpinan perempuan, serta memahami bagaimana berjalannya tata kelola desa. Kemudian mereka menginisiasi terbentuknya Forum Perempuan Peduli Pembangunan Desa (FP3D).

Pemetaan Kebutuhan Warga

Setelah pelatihan FP3D melaksanakan survey kebutuhan warga. Kegiatan seperti merupakan hal baru bagi warga desa karena belum pernah ada sebelumnya. Selama ini pemetaan aspirasi warga dilakukan oleh aparat desa dan dilakukan dalam forum yang terbatas. Akibatnya usulan warga yang dibawa ke Musrenbangdes misalnya cenderung sama dari tahun ke tahun. Survei dilaksanakan selama kurang lebih dua pekan dan melibatkan 250 warga desa yang menjadi responden dari 3 dusun (Sukorumbug, Tonggolari dan Tinjumoyo). Dalam pelaksanaan survey salah satu kendala yang ditemui oleh FP3D adalah dicurigai oleh warga dan beberapa warga yang sulit ditemui.

Pasca survey warga, data hasil survey diolah dan disajikan dalam lembar fakta sederhana agar lebih mudah disosialisasikan kepada seluruh warga desa. Melalui survey warga berhasil terpetakan kebutuhan dasar, penilaian terhadap kebutuhan dasar dan permasalahan yang ada di desa. Hasil survey warga antara lain perbaikan jalan kampung, jalan menuju sawah menjadi kebutuhan dasar prioritas bagi warga desa Sidomulyo. Namun masih ada kebutuhan dasar yang belum tersedia yaitu kurangnya bidan desa di Polindes, belum adanya gedung khusus Posyandu di dusun Tinjumoyo dan Tonggolari serta tidak tersedianya pelayanan kesehatan 24 jam. Selama ini warga melaksanakan Posyandu di rumah-rumah warga secara bergantian.

Kebutuhan dasar di desa seperti air bersih, pendidikan, aliran listrik, sarana transportasi umum, fasilitas kesehatan termasuk untuk ibu dan anak serta ketersediaan SDM, obat-obatan serta peralatan medis dinilai sudah cukup baik oleh warga. Sementara itu, menurut warga permasalahan desa yang harus segera diselesaikan adalah perbaikan jalan kampung dan jalan menuju sawah. Kemudian fasilitas publik termasuk diantaranya pengadaan balai dusun/dukuh, pelembaran makam, pengadaan zebracross di sekolah, membangun gedung sekolah, perbaikan rumah bagi warga tidak mampu, perbaikan gapura, lapangan desa, pengadaan taman baca anak serta akses rest area untuk pengepakan bunga. Permasalahan selanjutnya yaitu evaluasi kinerja pemerintahan desa yang mencakup kinerja aparat desa kurang baik, perlunya peningkatan koordinasi antar lembaga desa serta transparansi penggunaan dana desa.

Memperjuangkan Usulan Warga

Hasil survey ini kemudian dibawa ke temu dusun. Tujuannya agar warga dapat mengetahui, memverifikasi serta sebagai memberikan usulan lain yang belum tercakup dari survey tersebut. Forum ini dilaksanakan di tiga dusun dan dihadiri oleh tokoh masyarakat, kepala dusun serta warga desa. Kendala yang ditemui pada saat temu dusun temu dusun tidak banyak warga yang hadir, antara lain karena menganggap forum tersebut hanya untuk perempuan saja sebab yang menginisiasinya dari kelompok FP3D.

Hasil dari temu dusun tersebut akan dibawa ke forum yang lebih besar lagi yaitu temu warga desa. Dalam acara ini sebanyak 108 orang warga hadir, termasuk kepala desa, anggota Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) dan aparat desa lainnya. Mereka merespon hasil survei warga serta membahas usulan apa saja yang perlu ditambahkan. Namun sempat terjadi protes dari salah satu anggota BPD terhadap survey warga tentang HIPPAM (pengelolaan air oleh masyarakat desa). Anggota BPD tersebut memberikan klarifikasi bahwa perbaikan, pengelolaan dan administrasi HIPPAM telah dilakukan pada Maret 2015. Akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme warga memberikan usulan serta tanggapannya. Warga desa mengapresiasi dilaksanakannya kegiatan ini. Menurut mereka melalui kegiatan ini warga dapat lebih mengenali permasalahan yang ada di desanya. Selain itu kegiatan ini membuka wawasan serta menambah pengetahuan khususnya untuk para perempuan.

Hasil dari poin-poin diskusi dan kesepakatan warga kemudian disusun menjadi dokumen untuk selanjutnya didistribusikan kepada seluruh warga desa agar warga yang tidak hadir tetap mendapatkan informasi. Selain itu dokumen tersebut menjadi rujukan bersama warga termasuk dalam proses perencanaan pembangunan desa.

Perjuangan kelompok perempuan di desa Sidomulyo terus berlanjut. Walaupun sempat mengalami berbagai kendala dalam pelaksanaannya, saat ini peran kelompok perempuan dalam forum pembangunan desa mulai diperhatikan. Hal ini ditandai dengan masuknya salah satu anggota FP3D yaitu ibu Yuli ke dalam tim sebelas yang merupakan tim perumus RPJMDes Sidomuyo. Ibu Yuli adalah koordinator Sekolah Perempuan dan Ketua organisasi Karya Bunda Community (KBC). Dalam tim tersebut hanya ada 2 orang perempuan dan salahsatunya adalah ibu Yuli.

Belajar dari pengalaman partisipasi warga di desa Sidomulyo, penting untuk meningkatkan kapasitas kelompok warga terutama kelompok perempuan agar aktif terlibat dalam pembangunan di desa. Dengan aktifnya kelompok perempuan dalam pembangunan desa diharapkan dapat menggerakkan partisipasi warga secara keseluruhan, agar warga menjadi berdaya serta secara bersama dapat mengawal pembangunan di desa.

*Lembar fakta hasil survei kebutuhan warga Desa Sidomulyo dapat dilihat di lampiran berikut.