Jambore Virtual Dalam Rangka Memperingati #16HAKTP

Diunggah pada

16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang dikenal sebagai #16HAKTP adalah sebuah kampanye internasional yang diselenggarakan untuk mendorong penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Setiap tahunnya, #16HAKTP dimulai pada tanggal 25 November yang merupakan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, dan berakhir pada tanggal 10 Desember yang merupakan Hari HAM Internasional. Tahun ini, #16HAKTP di Indonesia mengusung tema “Gerak Bersama: Jangan Tunda lagi, Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual”.

Dalam rangka ikut serta memperingati #16HAKTP, Cakra Wikara Indonesia (CWI) bersama Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) menyelenggarakan Jambore Virtual yang terdiri dari workshop dan diskusi publik.

Workshop “Menciptakan Iklim Organisasi Yang Aman dan Responsif terhadap Kekerasan Seksual”

Workshop ini diselenggarakan secara daring pada Rabu, 9 Desember 2020 dengan tujuan untuk:

  • Membuka ruang diskusi yang konstruktif dan partisipatif mengenai pengalaman-pengalaman peserta diskusi tentang (a) kondisi di organisasi/tempat kerja/tempat belajar dalam mengupayakan terciptanya lingkungan yang aman dan responsif terhadap kekerasan seksual; (b) penanganan korban kekerasan seksual di tempat masing-masing.
  • Mendapatkan informasi dari narasumber mengenai upaya yang dapat dilakukan oleh organisasi/lembaga untuk menciptakan iklim yang aman dan responsif terhadap kekerasan seksual.
  • Mendapatkan informasi dari narasumber mengenai akses korban kepada perlindungan dan penanganan: bagaimana seorang korban kekerasan seksual dapat mengakses bantuan hukum dan pendampingan, termasuk mengenai pihak-pihak yang dapat dihubungi, proses yang harus dilalui, dan seterusnya.

Pembicara dari workshop ini adalah Dian Indraswari (Direktur Yayasan Pulih) dan Siti Mazuma (Direktur LBH APIK), dengan Veni Siregar (Koordinator Seknas Forum Pengada Layanan) sebagai moderator. Workshop ini diikuti oleh 25 peserta dari berbagai organisasi dan daerah.

Diskusi Publik “Mengapa Masih Menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual?” 

Diskusi publik ini diselenggarakan secara daring pada Jumat, 11 Desember 2020 dengan mengundang beberapa narasumber, yakni:

  1. K.H. Imam Nahe’i (Komisioner Komnas Perempuan)
  2. Prof. Nina Nurmila, Ph.D (Dosen UIN Sunan Gunung Djati, Bandung)
  3. Dr. Lidwina Inge Nurtjahyo (Dosen Fakultas Hukum UI)
  4. Syaldi Sahude (Relawan Aliansi Laki-Laki Baru)
  5. Prillia Kartika (Direktur Lokal HopeHelps UI)

Moderator: Roni (Peneliti Cakra Wikara Indonesia)

Tujuan dari diskusi ini adalah untuk menegaskan kembali bahwa advokasi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual merupakan bentuk upaya menghadirkan payung hukum yang berpihak kepada korban kekerasan seksual. Dalam diskusi kali ini, narasumber diharapkan untuk berbagi perspektif keilmuan serta pengalamannya dalam upaya memaknai beragam alasan yang masih digunakan berbagai pihak untuk menolak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Dari perspektif hukum, agama, sosiologi, budaya dan pengalaman keseharian, kelima narasumber dalam diskusi ini diharapkan dapat menambah pengetahuan publik serta meluruskan kesalahpahaman yang terjadi dalam masyarakat.

Rekaman dari diskusi publik ini juga dapat diakses di kanal YouTube CWI: https://www.youtube.com/watch?v=-sySGdB17nY&t=1090s

#GerakBersama
#SahkanRUUPKS
#RUUProKorban
#JanganTundaLagi