Riset Kepemimpinan Perempuan dalam Pemerintahan Daerah

Diunggah pada

Cakra Wikara Indonesia (CWI) saat ini sedang melaksanakan riset bertema kepemimpinan perempuan dalam pemerintahan daerah. Riset ini ingin memperluas narasi mengenai kehadiran perempuan kepala daerah dan mengidentifikasi tipologi kepemimpinan perempuan dalam pemerintahan daerah dengan menekankan pada signifikansi perempuan yang menjabat sebagai kepala daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Riset telah dilaksanakan untuk wilayah kabupaten Grobogan, provinsi Jawa Timur, kota Batu, kota Surabaya serta menyusul dilaksanakan di kabupaten Jember.

Kabupaten Grobogan

Salah satu kepala daerah perempuan yang diambil sebagai studi kasus untuk tingkatan kabupaten adalah Bupati Grobogan. Untuk pengumpulan data primer, CWI melakukan focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam dengan narasumber utama yaitu Bupati Grobogan serta narasumber dari unsur akademisi. Baik FGD maupun wawancara mendalam dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai latar belakang atau rekam jejak, kapasitas pribadi dan perspektif gender / ideologi kepala daerah perempuan.

Dalam rangkaian riset di kabupaten Grobogan ini diawali melakukan wawancara mendalam dengan Bapak Teguh Yuwono, dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, pada tanggal 27 November 2019.

Wawancara dengan dosen FISIP Univ.Diponegoro-Teguh Yuwono, 27 November 2019

Selanjutnya, pada 28 November 2019, CWI menyelenggarakan FGD yang menghadirkan 8 peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai elemen di kabupaten Grobogan yaitu pengurus partai, penyelenggara pemilu, akademisi, aktivis masyarakat sipil, dan jurnalis yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai proses pencalonan, kontestasi pemilu dan pelaksanaan tugas yang dijalani oleh Bupati Grobogan. Peserta yang hadir dalam FGD yaitu Sirojul Munir (Radar Kudus Jawa Pos), Yoyok Prihantoro (Ketua DPC PDIP Grobogan), Eva Eviana (Pengurus Perempuan Indonesia Raya-PIRA), Fitria Nita Witanti (Ketua Bawaslu Grobogan dan pengajar di STAI Grobogan), Samsiatun Zuana Laili (Sekretaris WPP Harian DPC PPP), Siti Istiqomah (Wakil Ketua DPC PKB Grobogan), Tri Erna Sis Ambar Pamungkas (Ketua PD Nasyiatul Aisyiah) dan Tri Endah Widyastuti (Ketua Fatayat Kab.Grobogan).

FGD Kabupaten Grobogan-Jawa Tengah, 28 November 2019

Pada hari yang sama, 28 November 2019, CWI juga melakukan wawancara mendalam dengan narasumber utama yaitu Ibu Sri Sumarni, Bupati Grobogan.

Wawancara dengan Bupati Grobogan-Sri Sumarni, 28 November 2019

Provinsi Jawa Timur

Untuk tingkatan provinsi, riset ini mengambil studi kasus satu-satunya gubernur perempuan saat ini yaitu gubernur Jawa Timur. Untuk pengumpulan data primer, CWI melakukan focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam dengan narasumber utama yaitu Gubernur Jawa Timur, serta wawancara dengan narasumber dari unsur partai politik.

Rangkaian kegiatan riset untuk provinsi Jawa Timur diawali dengan penyelenggaraan FGD pada tanggal 14 Desember 2019 di Surabaya. FGD menghadirkan 8 peserta yang berasal dari perwakilan partai politik, aktivis masyarakat sipil, akademisi serta jurnalis yaitu Yuli Andriyani (Wakil Bendahara Golkar Jatim), Yordan Batharagoa (Wakil Sekretaris PDIP Jatim), Dwi Astuti (Muslimat Jatim), Dwi Winarti (Fatayat NU Jatim), Dwi Windyastuti (Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga), Nanang Krisdinanto (Dosen Komunikasi Universitas Widya Mandala Surabaya), Wiwik Afifah (Ketua Koalisi Perempuan Indonesia – Jatim), Abdul Rokhim (Pimpinan Redaksi Jawa Pos).

FGD di Surabaya, 14 Desember 2019

Pada hari yang sama, 14 Desember 2019, CWI juga melakukan wawancara dengan Agus Dono Wibawanto, Ketua Bidang Organisasi, Keanggotaan dan Kader DPD Partai Demokrat Jatim dan anggota DPRD Provinsi Jatim.

Wawancara dengan Ketua Bidang Organisasi, Keanggotaan dan Kader DPD Partai Demokrat Jawa Timur dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur -Agus Dono Wibawanto, 14 Desember 2019

Kegiatan terakhir untuk studi kasus provinsi Jawa Timur adalah melakukan wawancara dengan narasumber utama yaitu Ibu Khofifah Indar Parawansa pada tanggal 21 Februari 2020 di Surabaya.

Wawancara dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, 21 Februari 2020

Kota Batu

Untuk tingkatan kota, salah satu walikota yang diambil sebagai studi kasus adalah Walikota Batu. Rangkaian riset di Kota Batu diawali dengan melaksanakan FGD pada tanggal 30 Januari 2020. FGD menghadirkan 8 peserta dari perwakilan aktivis masyarakat sipil, partai politik, akademisi dan jurnalis yaitu Ina Irawati (Women Crisis Center), Syaifudin (Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan), Susiyo Trisnowati (Fatayat NU), Juwita Hayyuning (Dosen Fisip Universitas Brawijaya), Didik Sumintarjo (Partai Golkar), Naufal (TIMES Indonesia), Mahmuda (Radar Malang), dan Salma Safitri (Suara Perempuan Desa).

FGD Kota Batu-Jawa Timur, 30 Januari 2020

Selain itu, pada hari yang sama, 30 Januari 2020, CWI juga melakukan wawancara mendalam dengan Hasan Ubaid, dosen ilmu politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya.

Wawancara dengan dosen FISIP Univ.Brawijaya- Hasan Ubaid, 30 Januari 2020

Kegiatan terakhir untuk studi kasus kota Batu adalah melakukan wawancara dengan narasumber utama yaitu Ibu Dewanti Rumpoko pada 12 Februari 2020.

Wawancara dengan Walikota Batu-Dewanti Rumpoko, 12 Februari 2020

Kota Surabaya

Untuk tingkatan kota, salah satu walikota yang diambil sebagai studi kasus adalah Walikota Surabaya. Untuk pengumpulan data primer, CWI melakukan wawancara mendalam dengan narasumber dari partai politik dan perwakilan media massa.

Dalam rangkaian kegiatan riset di Surabaya ini, CWI melakukan wawancara dengan Reni Astuti, Anggota DPRD Kota Surabaya Fraksi PKS pada tanggal 19 Februari 2020.

Wawancara dengan Anggota DPRD Kota Surabaya Fraksi PKS-Reni Astuti, 19 Februari 2020

Narasumber selanjutnya yang diwawancara adalah Baktiono, Anggota DPRD Kota Surabaya Fraksi PDIP, yang diwawancara pada tanggal 20 Februari 2020. Wawancara terakhir dilakukan dengan Edy Prasetyo, jurnalis Suara Surabaya, pada tanggal 21 Februari 2020.

Wawancara dengan jurnalis Suara Surabaya-Edy Prasetyo, 21 Februari 2020